Perjuangan Nanda, Remaja Asal Ungaran Melawan GBS: Butuh Dukungan untuk Pengobatan dan Pemulihan
Perjuangan Nanda, Remaja Asal Ungaran Melawan GBS: Butuh Dukungan untuk Pengobatan dan Pemulihan
Kutowinangun – Nanda (17), warga Dusun Srasutan RT 01 RW 01, Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, tengah berjuang melawan penyakit langka Guillain-Barré Syndrome (GBS) yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan pada kedua kakinya.
Nanda merupakan putra dari Bapak Lucki dan Ibu Ninik. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang aktif, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah, serta gemar bermain sepak bola. Tidak pernah ada tanda-tanda gangguan kesehatan sebelumnya.
Namun sekitar tiga tahun lalu, saat duduk di bangku kelas 2 SMP, Nanda tiba-tiba mengalami kesulitan bangun dari tidur, tubuh terasa kebas, dan perlahan tidak dapat digerakkan. Orang tuanya segera membawa Nanda ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Betapa hancurnya perasaan orang tua ketika hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Nanda menderita Guillain-Barré Syndrome (GBS), penyakit autoimun langka yang menyerang sistem saraf tepi. Kondisi tersebut sempat membuat Nanda harus menjalani perawatan intensif di ruang PICU selama beberapa hari.
Setelah kondisinya berangsur membaik, perjuangan Nanda belum berakhir. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa proses penyembuhan membutuhkan waktu panjang, terapi rutin, serta penanganan lanjutan. Saat ini, salah satu harapan pengobatan yang direkomendasikan adalah terapi stem cell, dengan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah dan belum dapat ditanggung oleh BPJS.
Hingga saat ini Nanda masih mengalami kelumpuhan pada bagian kaki dan belum dapat berjalan secara normal sehingga harus menjalani kontrol dan terapi rutin di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sebanyak kurang lebih dua kali dalam seminggu.
Untuk menunjang proses pemulihan, menurut rekomendasi dari dokter saat ini Nanda harus menggunakan alat bantu kaki berupa Ankle Foot Orthosis (AFO) yang berfungsi membantu latihan berdiri dan berjalan. Penggunaan alat tersebut diharapkan dapat memperkuat otot serta meningkatkan kemampuan mobilitas Nanda secara bertahap. disamping itu Nanda juga diwajibkan menjalani fisioterapi secara rutin setiap minggu sebagai bagian dari proses rehabilitasi.
Di samping itu, tim dokter juga rmerekomendasikan rencana tindakan pengobatan lanjutan berupa terapi stem cell yang dinilai berpotensi membantu pemulihan fungsi saraf. Namun demikian, tindakan tersebut belum ditanggung oleh BPJS sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar, mencapai ratusan juta rupiah.. Kebutuhan ini tentu memerlukan dukungan biaya operasional, termasuk transportasi menuju fasilitas kesehatan serta berbagai kebutuhan penunjang pengobatan lainnya.
Di tengah kondisi tersebut, orang tua Nanda yang hanya bekerja sebagai penjual makanan dengan penghasilan yang tidak menentu. Di satu sisi mereka harus bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari, di sisi lain harus memikirkan biaya besar demi kesembuhan anak tercinta. Kondisi ekonomi keluarga Nanda tergolong terbatas. Ibunya berjualan nasi di pertokoan dekat Balai Desa Ungaran dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara ayahnya saat ini fokus mendampingi dan merawat Nanda. Dalam kondisi tersebut, kebutuhan biaya pengobatan dan perawatan menjadi beban yang sangat berat bagi keluarga.
Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kecamatan Kutowinangun dalam memberikan pelayanan yang responsif dan berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya bagi warga dengan kondisi khusus seperti yang dialami oleh Nanda Pemerintah Kecamatan Kutowinangun telah melakukan fasilitasi secara responsif dan berkelanjutan sejak pertama kali menerima informasi mengenai kondisi Nanda pada tahun 2025 lalu. Laporan awal tersebut diterima oleh Pemerintah Kecamatan Kutowinangun melalui Eko Waluyo, yang saat itu menjabat sebagai Plt. Kasi Pelayanan Umum dan Kesejahteraan Sosial. Upaya koordinasi dengan Pemerintah Desa Ungaran serta pihak terkait untuk memastikan kondisi riil Nanda pun dilakukan. Kecamatan juga memberikan arahan kepada keluarga dan pemerintah desa untuk mengakses bantuan melalui berbagai jalur, seperti Baznas dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Desa.
Memasuki tahun 2026, tindak lanjut konkret dilakukan melalui koordinasi lintas sektor, khususnya dalam pemenuhan hak administrasi kependudukan bagi Nanda. Pada tanggal 25 Maret 2026 Mengingat keterbatasan fisik yang dialami, kecamatan melakukan konsultasi teknis terkait kemungkinan pelaksanaan layanan jemput bola. Sebagai langkah responsif, kecamatan juga menyiapkan alternatif solusi dengan memfasilitasi kehadiran Nanda ke kantor kecamatan serta membuka opsi bantuan penjemputan apabila sarana transportasi belum tersedia. Selain itu, kecamatan memastikan kesiapan pelayanan administrasi serta memberikan pendampingan kepada keluarga dalam pengurusan dokumen lainnya, termasuk rencana pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA). Upaya ini dilakukan ini sebagai bentuk eksekusi nyata dari hasil koordinasi lintas pihak yang telah dibangun sejak awal, sekaligus komitmen Pemerintah Kecamatan Kutowinangun dalam menghadirkan pelayanan publik yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Meskipun Berbagai upaya telah dilakukan oleh keluarga, pemerintah desa, kecamatan, dan pihak terkait, termasuk bantuan kursi roda dari Baznas serta pengajuan bantuan melalui berbagai jalur. Namun demikian, kebutuhan pengobatan lanjutan dan biaya pendukung masih menjadi tantangan besar.
Perjuangan Nanda masih panjang dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Diharapkan adanya kepedulian bersama dari masyarakat, lembaga sosial, maupun dunia usaha untuk membantu meringankan beban keluarga, sehingga Nanda memiliki kesempatan untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan secara normal.
Masyarakat yang ingin memberikan dukungan dapat berpartisipasi melalui donasi pada tautan berikut:
???? https://kitabisa.com/campaign/perjuangannandasembuh?utm_source=socialsharing_donor_web_undefined&utm_medium=share_campaign_whatsapp&utm_campaign=share_detail_campaign
Semoga dengan dukungan dan doa dari kita semua, Nanda dapat segera memperoleh kesembuhan.
