Jejak perjuangan Pratu Sumeri yang gugur di Sungai Kemit
Jejak perjuangan Pratu Sumeri yang gugur di Sungai Kemit
Di antara lembaran sejarah besar bangsa Indonesia, ada nama-nama kecil yang kerap tak tercatat di buku pelajaran, namun sejatinya menjadi pilar perjuangan kemerdekaan. Salah satunya adalah Pratu Sumeri, putra tunggal dari Simbah Ngadinem, warga Desa Kuwarisan (dulu Kedungtawon), Kutowinangun, Kebumen.
Lahir pada tahun 1927, Sumeri tumbuh dalam suasana kolonial yang penuh tekanan. Sejak kecil, ia terbiasa melihat ibunya mengabdi di lingkungan pemerintahan Wedana Kutowinangun hingga era Wedono Ahmad Jarie. Nilai loyalitas, disiplin, dan pengabdian pada tanah air telah tertanam kuat di dirinya.
Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, rakyat di berbagai daerah segera membentuk laskar perjuangan. Di Kebumen, para pemuda bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), cikal bakal TNI. Sumeri, yang saat itu berusia sekitar 18 tahun, memilih bergabung sebagai prajurit muda.
Keputusannya berangkat bukanlah tanpa pengorbanan. Sebagai anak tunggal, ia meninggalkan ibunya yang sudah renta. Namun, seperti banyak pejuang sebaya, ia lebih memilih angkat senjata demi menjaga kemerdekaan yang baru seumur jagung.
Tanggal 19 Desember 1948 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah republik. Belanda melancarkan Agresi Militer II, menyerbu Yogyakarta dan berbagai wilayah di Jawa. Garis pertahanan rakyat dibangun di banyak tempat, termasuk di Sungai Kemit, Kecamatan Karanganyar, Kebumen.
Di titik inilah pasukan Belanda berusaha menembus batas demarkasi pertahanan RI. Pratu Sumeri bersama rekan-rekannya dari kesatuan TNI lokal berusaha menahan gempuran. Pertempuran sengit terjadi di tepi sungai.
Pratu Sumeri gugur di medan laga. Usianya baru 21 tahun. Ia tumbang sebagai salah satu pejuang muda Kebumen dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Jenazahnya dimakamkan di Makam Singoyudo, Kedungtawon Lor, tidak jauh dari kampung halamannya.
Ibunda Pratu Sumeri, Simbah Ngadinem, hidup hingga awal 1990-an. Ia selalu menyimpan kisah tentang anak semata wayangnya yang gugur di usia muda. Hingga wafatnya pada sekitar tahun 1992, ia dirawat oleh Bapak Bawon, sahabat sekaligus sesama abdi di Kawedanan Kutowinangun. Rumah peninggalannya kini ditempati oleh putra Bapak Bawon, yakni Eko Waluyo, yang juga mengabdi di Kecamatan Kutowinangun.
Ziarah tahunan ke makam Pratu Sumeri, seperti yang dilakukan Pemerintah Desa Kuwarisan, BPD, Ketua RT/RW, PKK, tokoh agama, serta ahli waris pada Minggu, 17 Agustus 2025, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil tetesan darah para pejuang.
Saloka yang kerap diingat dari kisahnya:
“Kupersembahkan jiwa ragaku untuk negeri tercinta Indonesia. Tugasku berjuang, tugasmu meneruskan.”
???? Artikel ini adalah bagian dari upaya melestarikan jejak sejarah lokal Kebumen agar tidak hilang ditelan zaman.
